Rabu, 06 November 2013

Penantian

"bodoh, kemana saja kau? kenapa tidak menghubungiku?" desis Chery mengetuk layar ponselnya.
"Kau bicara dengan ponsel?"
Chery menoleh kesamping kanannya. Megan Laurent yang merupakan gadis blasteran Indonesia-Singapura berada di depan rak buku mengamatinya sambil tersenyum. "Sedang menunggu telepon dari nya?" Chery tidak menjawab, ia hanya bergeming sambil melihat keluar jendela perpustakaan dengan pandangan menerawang. Lalu seakan sudah membulatkan tekad, ia mendengus dan memasukan ponselnya ke dalam tas. "Lupakan saja." katanya tegas, terlebih pada dirinya sendiri. "Megan, ayo kita makan sekarang, mengasihani diri sendiri tak ada gunanya." katanya dengan langkah acuh tak acuh menghampiri Megan.
Megan menatap temannya dengan pandangan bingung "memangnya siapa yang mengasihani diri sendiri."

Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di salah satu restoran di dekat kampus mereka.
"Ada apa denganmu? kenapa akhir-akhir  ini kau terlihat tak bersemangat?"
"Tak usah mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja." kata Chery sambil memperbaiki posisi duduknya. Kemudian Megan mendecakkan lidah, "hey, ayolah, aku sudah lama mengenalmu, apa yang kau pikirkan?"
"Entahlah." kata Chery dengan menopangkan dagu di meja.
"Kau masih mengharapkannya?" jawab Megan dengan nada menuntut penjelasan. Ia memang tak bisa menutupi perasaannya dari teman nya itu. Ia hanya menunduk lesu sambil menghembuskan napas panjang.
"Sudahlah, masih banyak pria didunia ini, kau tak perlu cemas. Apa perlu aku mencarikan untukmu?"
"Memangnya aku ini tak laku." jawabnya mencibir.
Megan hanya tertawa melihat temannya itu.

***

Seharian ini Chery merasa sangat capek, tubuhnya terasa lemah meskipun ia tak melakukan apapun. Ia hanya memandangi posel nya. Menunggu dengan tak pasti, ia tau betul itu tindakan  bodoh. Untuk apa ia menunggu telepon nya, untuk apa ia tau kabar nya, untuk apa ia mengharapkan orang yang jelas-jelas sudah mencampakkan dan melupakan nya. Ya, ia sangat bodoh. "Raga.. kenapa kau begitu menyebalkan! menyingkirlah dari otakku!" desis Chery sambil merebahkan dirinya di kasur.

***

"Halo,  Iya.. aku sedang di kafe Hils .... Apa? Sekarang?... mm....  Iya aku tau sekarang sudah jam sebelas... iya, sebelas lebih sepuluh menit, terserah kau sajalah. Aku akan di sana lima belas menit lagi. Baiklah, sampai nanti."
Kemudian Chery melangkah keluar kafe dengan enggan, diikuti pandangan pria yang di sudut kafe itu. Ia tak sadar dari tadi ia dipandangi orang itu. Orang itu adalah Toby, sebenarnya ia tertarik pada Chery sudah lama, tapi ia tak berani mendekatinya, bahkan mengajak kenalan saja tak berani, selama ini Toby hanya mengagumi nya dari jauh. Ia tak tau apa yang membuat dirinya kagum pada gadis itu. Mungkin ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika bertemu di kafe ini. Setelah itu, Hils menjadi kafe favoritnya. Dari dalam kafe ia melihat punggung gadis itu menjauh dan kemudian menghilang. Siapa yang meneleponnya tadi? Sepertinya ia buru-buru, mungkin akan menemui seseorang, siapakah dia? apakah pacarnya? Astaga, gadis itu benar benar membuatnya gila.

***

"Hei, apa kau sudah lupa hari ini kau akan mengantarku membeli hadiah." gerutu Megan.
"Iya iya, kau ini cerewet sekali. Kau mau beli apa?"
"Entahlah, kita ke pusat perbelanjaan dekat kampus saja. Di sana banyak barang bagus."
"Baiklah."
Setelah sampai di sana mereka memilih barang untuk dihadiahkan kepada adik Megan, besok ia ulang tahun.
Chery melihat sebuah bando micky mouse besar, lucu juga, kemudian ia mencoba dan bergaya di kaca. Megan terkekeh melihat kelakuan teman nya itu. Chery semakin menjadi-jadi dengan menambahkan kaca mata hitam bertengger di hidungnya. "Kau gila ya." kata Megan sambil tertawa.
Akhirnya mereka menemukan hadiah yang tepat untuk adik Megan. Jam tangan mungil dengan sedikit ornamen di strap nya membuat nya tampak lebih manis.
Setelah keduanya mengucapkan selamat tinggal, Chery berjalan keluar. Hari ini ia malas pulang kerumah. Kemudian ia pergi ketempat favoritnya, Sungai Shine. di sana ia akan merasa tenang.
Chery mengeluarkan earphone dari tasnya, kemudian mendengarkan musik sambil bersandar pada pohon yang menghadap ke sungai dengan memejamkan mata.


Toby, berjalan menyusuri Jembatan di atas sungai dengan mengotak-atik kamera miliknya. Ia memang mempunyai hobi memotret obyek disekitarnya. Kemudian ia memandang sekelilingnya. Memang menakjubkan pemandangan di sungai ini. Sampai langkahnya terhenti ketika melihat sosok perempuan dengan rambut hitam di ikat asal-asalan dan mengenakan earphone dengan mata terpejam. Sepertinya ia tak asing baginya. Tak salah lagi ia benar benar mengenal wajah gadis itu, gadis yang selama ini di kagumi nya. Chery mengenakan pakaian yang sama saat bertemu di kafe dan pusat perbelanjaan tadi, Ia memang mengikutinya, namun hanya sampai pada pusat perbelanjaan. Ia takkan menyangka akan bertemu di sini. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan poni terurai di wajahnya. Toby memanfaatkan kesempatan itu untuk memotretnya. Ia merasa sangat senang bertemu dengan Chery lagi meskipun hanya bisa memandangi dari jauh. Tiba tiba Chery membuka matanya dan menatap ke jembatan, sesaat pandangan mereka bertemu, Kemudian Toby cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Ia merasa salah tingkah. Dadanya terasa sesak, ia sampai tak bisa bernapas saking gugupnya. Tuhan, ia melihat kemari, apa yang harus aku lakukan. Bisiknya dalam hati.
Toby, menimbang-nimbang apakah harus menghampiri nya atau tidak. Mungkin ini kesempatan yang bagus. Lagi pula ia sudah tidak bisa mundur lagi. Tapi apakah ia akan merespon, "baiklah, aku akan menghampiri nya" katanya memantapkan hati. Kemudian ia mulai melangkah mendekati gadis itu, sesaat langkahnya terhenti. Ia menyadari sepertinya ponsel gadis itu berbunyi, kemudian gadis itu merogoh tasnya untuk mengambil ponsel nya dan wajahnya tampak berseri kemudian ia mengangkatnya dan berbicara sambil tersenyum.
Lagi lagi beribu pertanyaan menghujam dibenaknya. Ia sangat penasaran, siapakah yang meneleponnya?

***
Hari ini Chery sangat senang, karena orang yang ditunggunya selama ini meneleponnya. Ia bilang ingin bertemu dengan Chery akhir pekan ini. Di satu sisi ia sangat senang bisa bertemu dengannya, tapi di sisi lain ia sangat jengkel dengan Raga, kenapa begitu mudah berpaling dan memutuskan hubungan dengannya, dasar idiot. Ia terus mengumpat dalam hati, bagaimana tidak, rasa sakit hatinya masih belum pulih.
***

"Terima Kasih." ucap Chery kepada salah satu pelayan kafe yang mengantarkan pesanannya. Ia memesan white coffe cream kesukaannya.
Chery menunggu dengan kesal. Salah satu kebiasaan buruk Raga adalah tidak pernah datang tepat waktu, dan itu membuat Chery semakin jengkel dengannya. Ia mendesah dan menyandarkan tubuhnya pada kursi, jangan-jangan ia hanya mempermainkanku, pikirnya. Ia melihat sekeliling kafe, ternyata cuma Chery yang duduk sendiri, ia mulai tak sabar menunggunya. Ketika mau beranjak dari kursi tiba-tiba ada yang mencengkeram lengannya dengan lembut. "Mau kemana kau?" katanya sambil memiringkan kepala.
Kemudian Chery berbalik dan melipat tangannya di dada kemudian menatap Raga, dengan tatapan kesal tentunya. "Baiklah, baiklah, maafkan aku terlambat menemuimu, tadi ada urusan sebentar." katanya menjelaskan.
"Sebenarnya yang ngajak ketemu itu siapa? Kenapa aku yang menunggumu?  Dasar." jawabnya ketus.
"Hey, sudahlah, aku tak mau wajahmu yang cantik ini jadi keriput. Bagaimana kabarmu?" katanya mengalihkan pembicaraan dengan melebarkan senyuman. Chery hanya tersenyum masam. "seperti yang kau lihat sekarang, aku baik baik saja."
"Syukurlah, sudah lama kita tak bertemu ya. Aku sangat rindu padamu."
"Iya, terakhir kali kita bertemu pada waktu itu...." nadanya merendah pada akhir kalimat kemudian pandangannya menerawang, ia ingat terakhir kali bertemu dengan Raga adalah saat yang paling pahit untuknya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Oh iya bagaimana kabar pacar barumu itu?" lanjutnya.
"Sepertinya aku tidak cocok dengan nya." jawabnya dengan menunduk.
Tidak cocok? Apa yang dipikirkan orang ini? Setelah hampir satu tahun ia baru bilang tidak cocok?
"Hanya kau yang memahamiku. Aku menyesal telah memutuskan hubungan kita. Sungguh." lanjutnya sambil menatap mata Chery dengan memasang wajah memelas. Chery tidak menjawabnya. Ia hanya memandang Raga dengan pandangan bingung. Sebenarnya apa yang diinginkan orang di hadapannya ini.

***
"Ah snack di kulkas sudah habis, sebaiknya aku pergi belanja sekarang."
Chery melesat ke supermaket. Kebetulan saat itu Toby baru pulang sekolah, karena merasa haus ia memutuskan untuk mampir beli minum. Dan ternyata ada Chery di dalam. Toby sangat senang bertemu dengan nya kembali setelah satu minggu tak melihatnya. Ia sengaja berlama lama di dalam karena masih rindu dengan gadis pujaan nya itu. Setelah merasa cukup Chery menuju meja kasir. Ia merogoh tasnya untuk mengambil dompet. Tapi kemana? "sebentar ya bu, saya  yakin sudah memasukan dompetnya.. " dia mencoba mengaduk-aduk isi tasnya kembali. ''kenapa tidak ada?" Chery bergumam sendiri, "Apakah tertinggal di rumah?"
Melihat Chery kebingungan seperti itu, Toby maju selangkah. Ia membayar belanjaan Chery. Kemudian menjinjing belanjaan gadis itu dan memberikan kepadanya yang masih mengobrak-abrik isi tasnya. "Ini, sudahlah tak perlu di cari lagi."
Chery mendongak dan memandang bocah ini dengan bingung, kemudian ia cepat-cepat berterima kasih. "Ah terima kasih, maaf telah merepotkanmu." kemudian memandangnya dari atas sampai bawah dengan menyipitkan mata. Sepertinya ia mengenali wajah bocah ini.  "Hei kenapa memandangku seperti itu?" sahut Toby dengan nada protes. "Ah tidak, sekali lagi terima kasih banyak. Mana nomor ponsel mu, aku akan menggantinya besok."
"Sudah tidak usah. Aku ikhlas membantumu, tak usah dipikirkan."
"Aku tak terbiasa menerima sesuatu dari orang secara cuma-cuma, cepat berikan nomor ponsel mu."
Ia menyerah dan memberikan nomor nya kepada Chery. "Siapa namamu? aku Chery."
"Aku Toby" jawabnya. "Baiklah nanti Kak Chery akan menghubungimu. sekarang kakak harus pergi. Sampai jumpa."
Ia menjauh meninggalkan Toby, wajahnya merah padam, ia merasa malu karena harus dibantu oleh anak SMA. "Bodoh, apa yang kau pikirkan? kenapa bisa meninggalkan dompet di rumah?" gerutunya dalam hati.
Toby masih mematung di tempatnya. Ia tak percaya bisa berbicara dengan gadis pujaannya. "Tunggu dulu, ia tadi menyebut dirinya Kak Chery? Apa ia menganggap ku sebagai bocah?" Toby bergumam pada dirinya sendiri. Ah sudahlah, tak penting, yang penting aku sudah berkenalan dengan nya dan sebentar lagi ia akan menghubungi ku. Kemudian ia melangkah pulang dengan hati berbunga-bunga.

***

Chery bersandar pada rak buku dekat jendela kaca perpustakaan dengan buku terbuka di tangannya namun tak sepenuhnya membaca. Ia masih sibuk memutar otaknya, mengingat kejadian minggu lalu. "Aku tak mengerti apa maunya".
"Maksudmu?" Jawab Megan mengangkat satu alisnya berharap Chery menjelaskan apa yang dikatakan nya.
"Minggu lalu Raga menemuiku. Ia berkata tidak cocok dengan pacar nya."
"Lalu?"
"Ia bilang menyesali perbuatannya."
"Kau senang?" jawabnya menyipitkan mata dengan pandangan menyelidik.
"Hmm"
Megan tampak tak puas dengan jawaban Chery.
"Kau jangan gampang percaya dengan nya. Kau masih ingat kan saat dia me........."
Belum selesai Megan melanjutkan kalimatnya. Ia ingat akan sesuatu sehingga tak menghiraukan Megan. "Astaga, aku harus menelepon Toby!" seru Chery sambil menepuk keningnya.
"Toby?"
Chery tidak menjawab ia hanya meletakkan jari telunjuknya di bibir memberi isyarat agar temannya itu diam.
"Halo, selamat siang. Bisa bicara dengan Toby?... iya ini aku Kak Chery... aku ingin bertemu denganmu.... hey, kau kan sudah membantuku, aku ingin menggantinya... Apa? ... Tidak bisa, aku kan sudah bilang kepadamu.... Oh baiklah." Kemudian ia melirik jam dinding di atas pintu perpustakaan dan melanjutkan percakapannya di telepon. ".... bagaimana kalau jam tujuh?.... Terserah kau saja.... baiklah, sampai nanti."

***
Didalam kafe hils Toby menunggu kedatangan Chery dengan semangat menggebu. Ia memang sengaja datang lebih awal karena ingin tau apakah Chery masih ingat wajahnya atau tidak. Ia memilih duduk di dekat dinding kaca besar agar bisa melihat kehadiran Chery dengan mudah. Sambil menunggu, ia mengotak-atik kamera kesayangannya, melihat hasil jepretan nya selama ini, kemudian menyunggingkan senyum di bibir nya. Tak lama kemudian ia melihat Chery berjalan menuju kafe. Saat itu juga jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Tiba-tiba ia merasa gugup. Kemudian tangannya memegang dada dan menutup mata. Sambil mengatur nafas ia berkata lirih "tenang Toby, jangan sampai terlihat gugup."
"Hay, Toby... sudah lama menunggu?"
"Ah, belum." jawabnya tersentak. Rupanya ia sudah berada disampingnya.
Kemudian Chery mengamatinya dengan pandangan heran.
"Kau terlihat berbeda." katanya sambil menyunggingkan senyum.
"Maksudmu?"
Chery tertawa kecil, kemudian menambahkan "Kau tampak lebih dewasa mengenakan pakaian biasa."
Toby tersenyum salah tingkah, hatinya melambung ke udara.
"Sepertinya kita pernah bertemu."
"Iya, kita bertemu di supermarket waktu itu."
Chery mengibaskan tangan nya "Bukan, sebelum itu kita pernah bertemu... ah iya! aku pernah melihatmu di sungai Shine." Katanya yakin.
"Benarkah?" ia sadar ia seperti orang bodoh yang tak tau apa apa. Padahal ia ingat betul hari itu. Saat itu pandangan mereka bertemu.
"Ya, waktu itu kau juga membawa kameramu itu." jawab Chery sambil melemparkan pandangan ke kamera Toby.
"Ah ini." ia terlihat malu.
"Kau sudah makan belum? Hari ini aku akan mentraktir mu."
"Belum, wah dalam rangka apa nih" jawab Toby riang.
"Tentu saja membalas kebaikan mu." Chery tersenyum manis.
Mereka membicarakan banyak hal. Chery merasa Toby anak yang manis dan gampang berteman, begitu juga sebaliknya. Kemudian makanan yang mereka pesan datang dan mereka mulai menyantapnya.
"Ternyata kau masih SMA ya." kata Chery dengan nada mengejek.
Toby tersedak dan cepat-cepat meraih gelas di dekat nya. "Memangnya kenapa kalau aku masih SMA?" jawabnya ketus.
Chery hanya tertawa kecil. "Kau punya PR tidak? bagaimana kalau ibumu mencarimu?" Lanjutnya tersenyum lebar. Toby tak menjawab, ia hanya mengerucutkan bibir dengan kesal. namun bukannya mereda Chery malah semakin menjadi jadi, ia terus menggoda Toby.

***
Malam ini ada pesta kembang api di pusat kota. Toby ingin sekali mengajak Chery, sudah tiga hari ia tak bertemu dengan nya. Tapi ia ragu, apakah Chery mau menerima ajakan nya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, ia mencoba menelepon gadis itu.

***
"Wuahh enak sekali..." kata Chery menyantap mie rebus pedas kesukaannya. Tiba-tiba ponsel nya berdering, dan ia segera meraih nya dari meja. Ia melihat nama "Bocah" di ponsel nya kemudian mengerutkan kening.
"Hallo, ada apa?" jawab nya dengan mulut penuh. "malam ini?" ia berpikir sejenak, "baiklah."

Selagi siap-siap, Chery mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia penasaran siapa yang datang. kemudian Chery menarik ganggang pintu kamar nya, betapa terkejutnya ia melihat seikat mawar di depan pintu kamar nya. Di atas mawar itu, ada sebuah note "Turunlah, jangan biarkan aku menunggumu lebih lama." Ia mengerjap-ngerjapkan mata, kemudian tersenyum dan bergegas turun ke bawah. Chery mendapati Toby sudah berada di luar, seakan menyadari keberadaan Chery, Toby berbalik tersenyum manis menyambut nya.
"Bagaimana kau bisa tau apartemenku?" tanya Chery penasaran.
Toby hanya tersenyum membiarkan gadis di depan nya itu penasaran. "Baiklah, sepertinya kita sudah terlambat." Tukasnya.
"Kau juga tahu aku suka mawar." Tampak jelas Chery terlihat senang. Ia sangat terkesan dengan perlakuan bocah ini dan terus menciumi mawar itu, seakan sudah lupa bahwa laki-laki di sebelah nya itu masih berumur 18 tahun. lebih muda 2 tahun darinya.
Kemudian mereka melesat menuju pusat kota.

***
Chery membiarkan matanya di manjakan oleh hingar bingar kembang api yang meletup di langit.
"Kau tau tidak, selain bunga mawar aku juga suka kembang api."
"Syukurlah, berati aku tak sia-sia membawa tante-tante sepertimu kemari." Toby tersenyum jail.
"Tante-tante?" Chery melotot dan memperlihatkan wajahnya yang paling galak kemudian meninju lengan Toby. Ia hanya meringis kesakitan. 
Ternyata kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Chery melihat seseorang yang dikenalnya -lebih dari kenal- berdiri tak jauh dari tempatnya. Tunggu dulu, ia tak sendiri. Ada seseorang yang menemaninya. Mereka terlihat sangat dekat. Tiba-tiba mata Chery terasa panas, napasnya tercekat, hatinya hancur tak karuan. Dengan emosi yang meledak Chery menghampiri laki-laki itu dan melempar nya dengan botol minuman yang sedari tadi di bawa nya. Raga tampak terkejut. Ia ingin menghajar orang yang melempar nya tadi, namun mengurungkan niat nya begitu tau yang melempar adalah Chery. Kemudian Chery meninggalkan mereka berdua dan Raga mencoba mengejarnya namun ditahan oleh gadis yang berada di sebelah nya. Gadis itu tampak marah. 
Toby yang berada di dekat nya kebingungan setengah mati. Apa yang terjadi dengan Chery? Kemudian ia mengejarnya, ketika berhasil meraih tangan nya, ia langsung menarik Chery ke dalam pelukannya. Gadis itu terlihat sangat kacau. 
"Ada apa denganmu? tenanglah." katanya berusaha menenangkan. Namun bukannya tenang ia malah makin terisak. Toby membiarkan Chery menumpahkan kekesalan dibahunya.

***
Hari ini Chery begitu malas berangkat kuliah, ia merasa tak bertenaga. Matanya terasa berat, pikirannya kacau, kepala nya begitu pusing. Ia melihat jam dinding di kamar nya, sudah jam sembilan pagi. Lalu ia memutuskan untuk membolos saja. Ia mengirimkan pesan kepada Megan bahwa ia tak bisa berangkat kuliah hari ini. Ia masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Masih terlalu lemah untuk itu. Ia berusaha memejamkan mata berharap bisa tenang. Namun ketenangannya terusik oleh ketukan pintu apartemennya. Siapa yang datang di pagi buta seperti ini, pikirnya kesal. Ia berusaha tak menghiraukan, namun ketukan itu semakin kencang. "Bisa gila aku ini" desisnya. Kemudian ia menyerah dan beranjak dari tempat tidur,  lalu menyeret kaki nya menuju pintu. Brakkk!! Baru mau mengomel ia melihat Toby di depan pintu tersenyum lebar menunjukan muka tanpa dosa. "Mau apa kau pagi-pagi kesini?" Tanya Chery dengan nada setengah kesal. 
Toby hanya tertawa kecil. "Lihat dirimu, seperti tak terurus saja." Chery baru sadar penampilan nya sangat kacau, rambut nya yang belum sempat disisir berantakan kemana mana. "Masuklah."
Kemudian Toby menurut, ia menggelengkan kepala melihat kondisi apartemen Chery. "Kau ini tinggal di apartemen atau di kandang sapi sih?". Chery mendecakkan lidah, "kenapa kau jadi seperti ibuku?" sahutnya protes. "duduklah." Katanya sambil menyalakan TV
"Bagaimana keadaanmu?"
Chery tak menjawab, ia hanya memencet-mencet remot mencari saluran yang menarik.
"Aku bisa pusing melihat TV mu itu, cepat matikan." pinta Toby. Chery menurut dan menatap Toby.
"Kenapa kau masih mengenakan seragam? kau membolos ya?".
"Aku ingin melihat keadaan mu, ternyata kau lebih mengerikan dari yang ku kira." Toby tersenyum jail.
"Bodoh, bagaimana kalau guru mu mencarimu?" jawab nya kesal.
Ia tak menanggapi pertanyaan Chery, kemudian mengeluarkan kotak makanan dari tas nya. "Kau sudah makan belum? Aku membawakan mu makanan."
Kebetulan perut Chery sangat lapar dan ia belum makan sesuatu dari tadi malam.
"Kau duduk saja, aku akan menyiapkan untuk mu." Toby melesat ke dapur untuk menyiapkan makanan. Chery hanya mengamati punggung bocah itu, terlihat sangat gesit dan berhati hati. Belum sampai sepuluh menit ia sudah selesai.
"Silahkan tuan puteri." katanya tersenyum sambil meletakkan nampan berisi segelas susu hangat dan makanan yang dibawa nya tadi di meja.
"Terima kasih." jawabnya tersenyum. Chery merasa lebih baik saat itu. 
"Aku tadi ke kampus mu. Kata teman mu kau sakit, makanya aku kemari." 
Ia tak menghiraukan penjelasan Toby, ia begitu menikmati makanan nya. "Enak sekali, kau beli dimana?" tanya Chery sambil mengunyah makanan nya. 
"Benarkah? Aku memasaknya sendiri." jawabnya tersipu.
Chery tersentak dan mencondongkan tubuh nya ke depan sambil berkata "Aku tak percaya. Bagaimana mungkin bocah seperti mu bisa memasak." kemudian mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula dan tertawa.
"Lega sekali bisa melihat mu tertawa seperti itu."
"Kenapa kau membawa gitar kesini?" Tanya Chery menyembunyikan rasa malunya. 
"Oh, ini? Di sekolah tadi kebetulan ada pelajaran seni budaya makanya aku membawa ini."
Chery mengangguk, "Berikan aku satu lagu."
Kemudian Toby meraih gitarnya, "kau mau lagu apa?" 
"Terserah." jawabnya menunggu.
Toby mulai memetik salah satu senarnya dan mulai bernyanyi. Ia menyanyikan lagu more than word dari extreme. Ternyata suara bocah itu begitu merdu. Chery merasa sangat terhibur, masalah nya dengan Raga terlupakan begitu saja. 

***
Ponsel Chery berdering, namun ia tak menanggapinya. ia begitu kesal dengan orang satu itu. Dari kemarin ia mencoba menghubungi nya namun tidak dihiraukan. Ia malas berurusan dengan nya lagi. 
"Ponsel mu berisik sekali, cepat angkat." pinta Megan tak tahan mendengarnya. 
Chery tampak kesal, kemudian mematikan ponsel nya.
Megan memutar bola matanya, "Raga lagi?" 
"Kau benar, ia tak bisa dipercaya, tempo hari aku melihat nya dengan gadis lain, padahal ia sudah bilang menyesal padaku." jawab Chery dengan nada datar.
"Aku turut prihatin mendengarnya." kata Megan dengan wajah sedih.
Chery tertawa kecil, "Aku sudah bisa melupakan keledai bodoh itu."
Megan mendongak dan menatap Chery, "karena Toby?"
Betapa kagetnya ia mendengar temannya berbicara seperti itu. "Kenapa bertanya seperti itu?" 
"Tentu saja, kau terlihat lebih ceria semenjak bertemu dengan nya." 
"Tapi ia masih SMA."jawab Chery sambil menatap langit langit kelasnya.
"What's wrong? Cinta tak mengenal usia, lagi pula kau hanya berselisih 2 tahun darinya, menurut ku itu tak tak jadi masalah." 
Chery tak menjawab, ia hanya tertawa kecil. "Sinting."
"Apanya yang sinting? bagaimana perasaan mu?"
"Kau tau, aku hanya bertemu beberapa kali dengannya."
"Dan kau merasa merasa ada yang lain dengan perasaan mu?" Megan mencoba menebak.
"Entahlah." Jawab Chery dengan menopangkan dagu sambil menghembuskan nafas panjang.

***

Toby mulai gelisah, ia ingin sekali mengutarakan perasaan nya yang tak terbendung itu. Ia tak bisa berlama-lama lagi menyimpannya. Ia begitu tersiksa ketika jauh dari Chery. Kemudian ia mencari akal bagaimana cara mengutarakannya. Tiba-tiba otak nya yang encer itu menemukan sebuah ide. Ia membawa laptop dan perlengkapan lain yang diperlukan nya. Setelah sampai di apartemen ia meminta kunci duplikat kamar Chery dengan pemilik apartemen nya. Kebetulan pemiliknya mengenal Toby dengan baik. Ia adalah teman baik ibu nya, ia juga tau Toby teman baik Chery. Pada saat itu Chery sedang di kampusnya. Kemungkinan ia pulang sore, karena itu ia mengambil kesempatan ini untuk mengotak atik kamar Chery.

Setelah beberapa jam berkutat dengan kamar Chery, akhirnya ia puas melihat hasil tangan nya. "Sempurna" bisiknya senang. "Ku harap kau menyukai ini."  gumamnya pelan. Kemudian ia melihat ke jendela kaca, ternyata langit sudah jingga, kemudian menurunkan pandangan nya ke bawah, oh tidak, Chery sudah berada di beranda apartemen. Dengan gesit ia melesat menjauhi apartemen melalui pintu belakang. Ia tak menyadari bahwa laptop nya tertinggal di kamar.

***
Seharian ini Chery begitu lelah, banyak tugas kampus yang membuat nya pusing setengah mati hingga ia harus pulang sesore ini. Begitu masuk ke apartemen nya, ia merasa ada yang aneh. Tapi ia tak mempedulikan nya, terlalu lelah untuk itu. Ia merebahkan diri di kasur, lalu memperhatikan seluruh isi apartemen nya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Iya, benar. Ada yang berubah dari kamarnya, semuanya tersusun rapi. Hey, di meja belajarnya ada seikat mawar! Ia segera meraih mawar itu. Tunggu dulu, ada note di atas nya. "Bagaimana harimu? Pasti melelahkan ya? Semoga mawar ini dapat mengobati penat mu :)" Chery tersenyum senang. Dalam sekejap rasa letih nya terobati sudah. "Pasti Toby" gumam nya. Lalu ia duduk disofa sambil mencium mawarnya. "Laptop siapa ini?" ia melihat ada laptop tergeletak di meja nya. Apa milik bocah itu? pikirnya. Dengan penasaran ia membuka laptop itu dan menghidupkan nya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat layar yang pertama kali muncul adalah potret dirinya. Ini adalah fotonya saat di Sungai Shine. Ia mengenakan earphone dan memejamkan mata. Tiba-tiba Chery ingat akan sesuatu, ya, ia ingat waktu itu ia juga melihat Toby di atas jembatan. Dan pandangan mereka bertemu. Foto itu mengundang rasa penasaran nya, lalu ia mencoba membuka folder picture. Ada banyak folder disitu, tapi ada satu yang menarik perhatian nya. Folder itu berjudul Lovely. Ia membukanya dan terkejut lagi, ternyata itu kumpulan foto dirinya, ada fotonya ketika berada di cafe, di sungai, di supermarket, di pusat perbelanjaan bahkan foto sebelum dirinya berkenalan dengan Toby. Kemudian ia menekan tombol slide show, dan terdengar alunan lagu the one that got away, lagu itu benar-benar bisa menggambarkan perasaan Toby. Chery menikmatinya sambil mengamati foto-foto yang muncul di layar. "Bagaimana ia bisa mendapatkan foto-foto ini?" gumamnya sambil tersenyum.
"HUaahh.... kenapa jadi ngantuk begini?" Ketika mau beranjak menuju tempat tidurnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada pesan masuk. "Selamat beristirahat, semoga malam mu menyenangkan :)" Ia menyunggingkan senyum ketika membaca pesan dari Toby.
Kemudian ia mematikan lampu kamar nya dan menuju ranjang nya. Tak lama kemudian ia benar-benar terkejut, langit-langit kamarnya tiba-tiba bercahaya kelap kelip seperti bintang dan ada kata I LOVE YOU di sana. Ia benar-benar syok, napasnya begitu tercekat. Ia hampir menangis dibuatnya. Ia tak tau kata apa yang dapat mengekspresikan kebahagiaanya. Kemudian ia meraih ponsel dan menelepon Toby. Anak itu benar-benar membuat nya gemas.
"Apa yang kau lakukan dengan kamar ku?"
Terdengar tawa Toby di ujung sana "Kau suka tidak?" tanya nya penasaran.
"Hanya orang idiot yang tak menyukainya."
"Jadi?" sekarang nadanya terdengar was-was.
"I love you too bocah." jawab Chery geram.
"Yess!!" suara nya meledak kegirangan.
Lalu ia melanjutkan "Kau tau, kau sudah terluka dua kali dan aku tak mau menjadi yang ketiga kalinya. Kau tau kenapa?"
"Kenapa?" jawab Chery penasaran.
"Aku tak punya piring cantik untuk dihadiahkan kepada mu." Kemudian tawanya meledak lagi.

Tak sia-sia bagi Toby mengagumi Chery selama ini. Akhirnya perasaannya terbalas setelah menunggu sekian lama.



The End